Sejarah Nabi Muhammad
SAW
Lagi-lagi sebuah sejarah dilupakan, seakan-akan mereka tidak
pernah tahu atau mungkin tidak mau tahu, ini adalah sejarah yang tak boleh
dilupakan, karena inilah sebab awal penciptaan dan akhir penciptaan, ia bermula
14 abad yang lalu di sebuah kota kecil, sebuah kota yang panas dan tandus yang
dipenuhi dengan penyembahan terhadap kayu-kayu dan batu-batu yang tak dapat
berbuat apa-apa dan juga disana terdapat sebuah kotak hitam yang dikelilingi
oleh berhala-berhala yang sekarang telah berubah wujud tapi memiliki wujud
berhala yang sama. Sungguh tak terpikirkan betapa bodoh manusia zaman itu,
ialah sebuah jazirah yang disebut jazirah Arabia, perbuatan buruk dan haram,
perampokan, pembunuhan bayi,minum-minuman keras, yang memusnahkan segala
kebajikan dan moral menempatkan masyarakat jazirah Arabia ini dalam situasi
kemerosotan yang luar biasa. Mereka terpecah-pecah menjadi kabilah-kabilah
(bani/kaum).
Muhammad
Muhammad bin Abdullāh adalah pembawa
ajaran/agama Islam, dan diyakini oleh umat Muslim sebagai nabi dan (Rasul) yang
terakhir. Menurut sirah (biografi) yang tercatat tentang Muhammad, ia
disebutkan lahir sekitar 20 April 570/ 571, di Mekkah (Makkah) dan wafat pada 8
Juni 632 di Madinah pada usia 63 tahun. Kedua kota tersebut terletak di daerah
Hijazh, Arab Saudi. Nabi Muhammad haram digambarkan dalam bentuk patung, kartun
ataupun gambar ilustrasi.
ETIMOLOGI
"Muhammad" secara bahasa
berasal dari akar kata semitik 'H-M-D' yang
dalam bahasa Arab berarti "dia yang terpuji". Selain itu di dalam
salah satu ayat Al-Qur'an[7], Muhammad dipanggil dengan nama "Ahmad" (أحمد),
yang dalam bahasa Arab juga berarti "terpuji".
Sebelum masa kenabian, Muhammad mendapatkan dua
julukan dari sukuQuraisy (suku terbesar di Mekkah yang juga suku
dari Muhammad) yaituAl-Amiin yang
artinya "orang yang dapat dipercaya" dan As-Saadiq yang artinya
"yang benar". Setelah masa kenabian para sahabatnya memanggilnya
dengan gelar Rasul Allāh (رسول
الله), kemudian menambahkan kalimat Shalallaahu 'Alayhi Wasallam (صلى
الله عليه و سلم, yang berarti "semoga Allah memberi kebahagiaan dan
keselamatan kepadanya"; sering disingkat "S.A.W" atau
"SAW") setelah namanya.
Muhammad juga mendapatkan julukan Abu al-Qasim[8] yang berarti "bapak Qasim", karena
Muhammad pernah memiliki anak lelaki yang bernama Qasim, tetapi ia meninggal
dunia sebelum mencapai usia dewasa.
GENEOLOGI
Silsilah Muhammad dari kedua orang tuanya kembali ke
Kilab bin Murrah bin Ka'b bin Lu'ay bin Ghalib bin Fihr (Quraish) bin
Malik bin an-Nadr (Qais) bin Kinanah bin Khuzaimah bin Mudrikah (Amir) binIlyas bin
Mudhar bin Nizar bin Ma`ad bin Adnan.[9] Adnan
merupakan keturunan laki-laki ke tujuh dariIsmail bin Ibrahim,
yaitu keturunan Sam bin Nuh.[10] Muhammad lahir di hari Senin, 12 Rabi’ul Awal tahun 571 Masehi (lebih dikenal sebagai Tahun Gajah).
Lebih lengkap silsilahnya dari Muhammad hingga Adam
adalah Muhammad bin Abdullah bin Abdul Mutthalib bin Hasyim bin Abdul Manaf bin Qushay bin
Kilab bin Murrah bin Ka’ab bin Luay bin Ghalib bin Fihr (Quraisy)
bin Malik bin Nadhr bin Kinanah bin Khuzayma bin Mudrikah bin Ilyas bin Mudhar
bin Nizar bin Ma'ad bin Adnan bin Udad bin al-Muqawwam bin Nahur bin Tayrah bin
Ya'rub bin Yasyjub bin Nabit bin Ismail bin Ibrahim bin Tarih (Azar)
bin Nahur bin Saru’ bin Ra’u bin Falikh bin Aybir bin
Syalikh bin Arfakhsyad bin Sam bin Nuh bin Lamikh bin Mutusyalikh bin Akhnukh bin Yarda binMahlil bin Qinan bin Yanish bin Syits bin Adam.
Nasab ini disebutkan oleh Muhammad bin Ishak bin Yasar
al-Madani di salah satu riwayatnya. Nasab Rasulullah sampai Adnan disepakati
oleh para ulama, sedangkan setelah Adnan terjadi perbedaan pendapat. Maksud
dari Quraisy adalah putra Fihr bin Malik atau an-Nadhr bin Kinanah
RIWAYAT
KELAHIRAN
Pada saat yang sangat
kritis ini muncullah sebuah bintang pada malam yang gelap gulita, sinarnya
semakin terang membuat malam menjadi terang benderang, ia bukan bintang yang
biasa, tapi bintang yang sangat luar biasa, bahkan matahari di siang haripun
malu menampakkan sinarnya karena bintang ini adalah maha bintang yang
terlahirkan ke muka bumi, ialah cahaya dalam kegelapan, ia adalah cahaya di
dalam dada, ia dikenal dengan Nama Muhammad, menurut sejarawan bintang ini tepat
terlahir tanggal 17 Rabiâul Awwal (12 Rabiâul awwal menurut mazhab sunni) 570
M, bintang ini tak pernah padam walaupun 14 abad setelah ketiadaannya, bahkan
ia semakin terang dan semakin terang, dari bintang ini terlahir 13 bintang yang
lain, yang selalu menjadi hujjah bagi bintang-bintang yang sulit bersinar
lainnya di setiap zamannya. Ia memiliki silsilah yang berhubungan langsung
dengan jawara Tauhid melalui anaknya Ismail AS, yang dilahirkan melalui
rahim-rahim suci dan terpelihara dari perbuatan-perbuatan mensekutukan Tuhan.
Ia begitu suci sehingga Tuhan memerintahkan kepada Para Malaikat dan Jin untuk
bersujud kepada Adam, karena cahayanya dibawa oleh Adam AS untuk disampaikan
kepada maksud, ia adalah rencana Tuhan yang teramat besar yang langit dan bumi
pun tak kan sanggup memikulnya.
Peristiwa kelahiran
sang bintang dipenuhi dengan kejadian-kejadian yang luarbiasa, dimulai dengan
peristiwa padamnya api âabadiâ di kerajaan Persia, hancurnya sesembahan batu di
sana, dan penyerangan pasukan bergajah untuk menghancurkan Kaâbah, yang di
kemudian hari menjadi kiblat baginya dan ummatnya sampai akhir zaman, namun
tentara yang besar ini dihancurkan oleh burung-burung yang dikirimkan oleh Sang
Pemilik kiblat (Kaâbah), karenanya tahun ini dinamakan tahun Gajah. Sudah
menjadi tradisi kelahiran manusia luar biasa harus juga didahului peristiwa
yang luar biasa. Muhammad namanya, ayahnya bernama Abdullah, Ibundanya Aminah,
kedua orang tuanya berasal dari silsilah yang mulia yang merupakan keturunan
Jawara Tauhid (Ibrahim AS). Abdullah lahir kedunia hanya untuk membawa nur
Muhammad dan meletakkannyaâ ke dalam rahim Aminah, Sang isteri saat itu
mengandung (2 bulan) bayi yang kelak menjadi manusia besar. Setelah lama
kepergian sang suami, sang isteri merasakan kesepian yang amat dalam, walaupun
suaminya selalu berkirim surat. Namun pada saat lain surat tidak lagi ia
terima, begitu riang hatinya ternyata ia melihat rombongan dagang suaminya
telah pulang, tapi Ia amat terkejut karena tak dilihatnya suaminya, datanglah
seseorang dari rombongan tersebut yang menyampaikan berita kepada Aminah,
mulutnya begitu berat untuk mengucapkan kata “ kata ini kepada wanita ini, ia
tidak sanggup mengutarakannya, namun akhirnya terucap juga bahwa sang suami
telah berpulang ke hadirat Allah Swt dan dimakamkan di abwa.
Begitu goncang hatinnya
mendengarkan hal ini, tak sanggup menahan tangisnya, ia menangis menahan sedih
dan tak makan beberapa hari, namun ia bermimpi, dalam mimpinya seorang wanita
datang dan berkata kepadanya agar ia menjaga bayi dalam janinnya dengan baik baik. Ia berulang kali bermimpi bertemu dengan
wanita tersebut yang ternyata adalah Maryam binti Imran (Ibu Isa as). Dalam
mimpinya sang wanita mulia ini berkata :Kelak bayi yang ada didalam rahimmu
akan menjadi manusia paling mulia sejagat raya, maka jagalah ia baik baik hingga kelahirannya.
Saat ayahanda Muhammad
yang mulia ini Wafat dalam usia 20 tahun (riwayat lain 17 tahun), sang bintang kita ini sedang berada
dalam kandungan ibunya, beberapa tahun kemudian Bunda Sang bintang menyusul suaminya
dan dimakamkan di Abwa juga. Muhammad dibawa pulang oleh Ummu Aiman dan diasuh
oleh kakeknya, belum lagi hilang duka setelah ditinggal Sang Bunda, ia pun
harus kehilangan kakeknya ketika umurnya belum lagi menginjak delapan tahun.
Setelah kepergian sang kakek, sang bintang (Muhammad) diasuh oleh pamannya, Abu
Tholib, seorang putra Abdul Mutholib yang pertama menyatakan keimanannya kepada
kemenakannya sendiri (Muhammad). Pemandu ilahi selalu saja dipilihkan oleh
Ilahi untuk memiliki profesi sebagai seorang gembala, melalui profesi ini
beliau mengarungi beberapa waktu kehidupannya untuk menjadi gembalaâ domba yang
lebih besar, inilah pilihan Ilahi yang memilihkan baginya sebuah jalan dimana
hal ini penting bagi orang yang akan berjuang melawan orang-orang hina yang
berpikiran sampai menyembah aneka batu dan pohon, ilahi menjadikannya kuat
sehingga tidak menyerah kepada apapun kecuali keputusan-Nya. Ada penulis sirah
yang mengutip kalimat Nabi berikut ini, Semua Nabi pernah menjadi gembala sebelum
beroleh jabatan kerasulan. Orang bertanya kepada Nabi, Apakah Anda juga pernah
menjadi gembala? Beliau menjawab, Ya. Selama beberapa waktu saya menggembalakan
domba orang Mekah di daerah Qararit.
Sang bintang terlahir
bukan dari kalangan orang yang teramat kaya, belum lagi ia dilahirkan sebagai
seorang yatim, dan telah kehilangan Ayah, Ibu di masa kecil sebagai tempat
bernaung, apa yang dapat dikatakan oleh anak kecil yang telah kehilangan kedua
orang tuanya sedangkan dia sendiri masih membutuhkan naungan kedua orang tua
dan kasih sayang mereka. Mari kita masuk ke jazirah Arabia lebih jauh lagi,
kita dapat melihat bahwa kondisi keuangan Muhammad terbilang cukup sulit.
Muhammad terkenal dengan kemuliaan rohaninya, keluhuran budi, keunggulan ahklaq
dan dirinya dikenal di masyarakat sebagai orang jujurâ (al-Amin), ia menjadi
salah seorang kafilah dagang Khodijah yang terpercaya dan Khodijah memberikan
dua kali lipat dibandingkan yang diberikannya kepada orang lain. Kafilah
Quraisy, termasuk barang dagangan Khodijah, siap bertolak, kafilah tiba di
tempat tujuan. Seluruh anggotanya mengeruk laba. Namun, laba yang diperoleh
Nabi lebih banyak ketimbang lain. Kafilah kembali ke Makkah. Dalam perjalanan, Sang
bintang melewati negeri Ad dan Tsamud. Keheningan kematian yang menimpa kaum
pembangkang itu mengundang perhatian sang bintang.
Kafilah mendekati
Mekah, Maisarah, berkata kepada sang Bintang, Alangkah baiknya jika Anda
memasuki Mekah mendahului kami dan mengabarkan kepada Khodijah tentang
perdagangan dan keuntungan besar yang kita dapatkan. Nabi tiba di Mekah ketika
Khodijah sedang duduk di kamar atasnya. Ia berlari turun dan mengajak Nabi ke
ruangannya. Nabi menyampaikan, dengan menyenangkan, hal-hal menyangkut barang
dagangan. Maisarah menceritakan tentang Kebesaran jiwa Al-Amin selama
perjalanan dan perdagangan. Maisarah menceritakan Di Busra, Al-Amin duduk di
bawah pohon untuk istirahat. Seorang pendeta, yang sedang duduk di biaranya,
kebetulan melihatnya. Ia datang seraya menanyakan namanya kepada saya, kemudian
ia berkata, Orang yang duduk di bawah naungan pohon itu adalah nabi, yang
tentangnya telah saya baca banyak kabar gembira di dalam Taurat dan Injil.
Kemudian Khodijah
menceritakan apa yang didengarnya dari Maisarah kepada Waraqah bin Naufal, si
hanif dari Arabia. Waraqah mengatakan, Orang yang memiliki sifat-sifat itu
adalah nabi berbangsa Arab.
PERKENALAN
DENGAN KHADIJAH
Ketika Muhammad
mencapai usia remaja dan berkembang menjadi seorang yang dewasa, ia mulai
mempelajari ilmu bela diri dan memanah, begitupula dengan ilmu untuk menambah
keterampilannya dalam berdagang. Perdagangan menjadi hal yang umum dilakukan
dan dianggap sebagai salah satu pendapatan yang stabil. Muhammad sering
menemani pamannya berdagang ke arah Utara dan kabar tentang kejujuran dan
sifatnya yang dapat dipercaya menyebar luas dengan cepat, membuatnya banyak
dipercaya sebagai agen penjual perantara barang dagangan penduduk Mekkah.
Salah seseorang yang
mendengar tentang kabar adanya anak muda yang bersifat jujur dan dapat
dipercaya dalam berdagang dengan adalah seorang janda yang bernama Khadijah. Ia
adalah seseorang yang memiliki status tinggi di kalangan suku Arab. Sebagai
seorang pedagang, ia juga sering mengirim barang dagangan ke berbagai pelosok
daerah di tanah Arab. Reputasi Muhammad membuat Khadijah memercayakannya untuk
mengatur barang dagangan Khadijah, Muhammad dijanjikan olehnya akan dibayar dua
kali lipat dan Khadijah sangat terkesan ketika sekembalinya Muhammad membawakan
hasil berdagang yang lebih dari biasanya.
Seiring waktu akhirnya
Muhammad pun jatuh cinta kepada Khadijah, mereka menikah pada saat Muhammad
berusia 25 tahun. Saat itu Khadijah telah berusia mendekati umur 40 tahun,
namun ia masih memiliki kecantikan yang dapat menawan Muhammad. Perbedaan umur
yang jauh dan status janda yang dimiliki oleh Khadijah tidak menjadi halangan
bagi mereka, walaupun pada saat itu suku Quraisy memiliki budaya yang lebih
menekankan kepada perkawinan dengan seorang gadis ketimbang janda. Meskipun
kekayaan mereka semakin bertambah, Muhammad tetap hidup sebagai orang yang
sederhana, ia lebih memilih untuk menggunakan hartanya untuk hal-hal yang lebih
penting.
PERNIKAHAN
Kebanyakan sejarawan
percaya bahwa yang menyampaikan lamaran Khadijah kepada Nabi ialah Nafsiah
binti Aliyah sebagai berikut:
Wahai Muhammad!
Katakan terus terang, apa sesungguhnya yang menjadi penghalang bagimu untuk
memasuki kehidupan rumah tangga? Kukira usiamu sudah cukup dewasa Apakah anda
akan menyambut dengan senang hati jika saya mengundang Anda kepada kecantikan,
kekayaan, keanggunan, dan kehormatan
Nabi menjawab,âApa maksud Anda? Ia lalu menyebut Khodijah. Nabi lalu berkata,
Apakah Khodijah siap untuk itu, padahal dunia saya dan dunianya jauh berbeda?
Nafsiah berujar Saya mendapat kepercayaan dari dia, dan akan membuat dia
setuju. Anda perlu menetapkan tanggal perkawinan agar walinya (Amar bin Asad)
dapat mendampingi Anda beserta handai tolan Anda, dan upacara perkawinan dan
perayaan dapat diselenggarakan".
Kemudian
Muhammad membicarakan hal ini kepada pamannya yang mulia, Abu Tholib. Pesta
yang agung pun diselenggarakan, sang paman yang mulia ini menyampaikan pidato,
mengaitkannya dengan puji syukur kepada Tuhan. Tentang keponakannya, ia berkata
demikian, Keponakan saya Muhammad bin Abdullah lebih utama daripada siapapun di
kalangan Quraisy. Kendati tidak berharta, kekayaan adalah bayangan yang
berlalu, tetapi asal usul dan silsilah adalah permanen".
Waraqah, paman
Khodijah, tampil dan mengatakan sambutannya, Tak ada orang Quraisy yang
membantah kelebihan Anda. Kami sangat ingin memegang tali kebangsawanan Anda.
Upacara pun dilaksanakan. Mahar ditetapkan
empat puluh dinar-ada yang mengatakan dua puluh ekor unta.
Sang bintang
sekarang mulai dewasa, ia mempunyai seorang istri yang begitu lengkap
kemuliaannya, dari perkawinan ini Khodijah melahirkan enam orang anak, dua
putra, Qasim, dan Abdulah, yang dipanggil At-Thayyib, dan At-Thahir. Tiga orang
putrinya masing-masing Ruqayyah, Zainab, Ummu Kaltsum, dan Fatimah. Kedua anak
laki-lakinya meninggal sebelum Muhammad diutus menjadi Rosul.
Ketika umur
sang bintang mulai menginjak 35 tahun, banjir dahsyat mengalir dari gunung ke
Kaâbah. Akibatnya, tak satu pun rumah di Makah selamat dari kerusakan. Dinding
kaâbah mengalami kerusakan. Orang Quraisy memutuskan untuk membangun Kaâbah
tapi takut membongkarnya. Walid bin Mughirah, orang pertama yang mengambil
linggis, meruntuhkan dua pilar tempat suci tersebut. Ia merasa takut dan gugup.
Orang Mekah menanti jatuhnya sesuatu, tapi ketika ternyata Walid tidak menjadi
sasaran kemarahan berhala, mereka pun yakin bahwa tindakannya telah mendapatkan
persetujuan Dewa. Mereka semua lalu ikut bergabung meruntuhkan bangunan itu.
Pada saat pembangunan kembali kaâbah, diberitahukan pada semua pihak sebagai
berikut, Dalam pembangunan kembali Kaâbah, yang dinafkahkan hanyalah kekayaan
yang diperoleh secara halal. Uang yang diperoleh lewat cara-cara haram atau
melalui suap dan pemerasan, tak boleh dibelanjakan untuk tujuan ini.Terlihat
bahwa ini adalah ajaran para Nabi, dan mereka mengetahui tentang kekayaan yang
diperoleh secara tidak halal,
tetapi kenapa mereka masih melakukan hal demikian, inipun terjadi di zaman ini,
di Indonesia, rakyat ataupun pemerintahnya mengetahui tentang halal dan
haramnya suatu harta kekayaan atau pun perbuatan yang salah dan benar, tapi
mereka masih saja melakukan perbuatan itu walaupun tahu itu adalah salah.
Mari kita
kembali lagi menuju Mekah, ketika dinding kaâbah telah dibangun dalam batas
ketinggian tertentu, tiba saatnya untuk pemasangan Hajar Aswad pada tempatnya.
Pada tahap ini, muncul perselisihan di kalangan pemimpin suku. Masing-masing
suku merasa bahwa tidak ada suku yang lain yang pantas melakukan perbuatan yang
mulia ini kecuali sukunya sendiri. Karena hal ini, maka pekerjaan konstruksi
tertunda lima hari. Masalah mencapai tahap kritis, akhirnya seorang tua yang
disegani di antara Quraisy, Abu Umayyah bin Mughirah Makhzumi, mengumpulkan
para pemimpin Quraisy seraya berkata,Terimalah sebagai wasit orang pertama yang
masuk melalui Pintu Shafa. (buku lain mencatat Bab as-salam). Semua menyetujui
gagasan ini. Tiba-tiba Muhammad muncul dari pintu. Serempak mereka berseru, Itu
Muhammad, al-Amin. Kita setuju ia menjadi wasit!
Untuk
menyelesaikan pertikaian itu, Nabi meminta mereka menyediakan selembar kain.
Beliau meletakkan Hajar Aswad di atas kain itu dengan tangannya sendiri,
kemudian meminta tiap orang dari empat sesepuh Mekah memegang setiap sudut kain
itu. Ketika Hajar Aswad sudah diangkat ke dekat pilar, Nabi meletakkannya pada
tempatnya dengan tangannya sendiri. Dengan cara ini, beliau berhasil mengakhiri
pertikaian Quraisy yang hampir pecah menjadi peristiwa berdarah.
Tuhan, Sang
Maha Konsep sudah membuat konsep tentang semua ini, tanda-tanda seorang bintang
telah banyak ia tampakkan pada diri Muhammad, dari batinnya yang mulia sampai
pada bentuk lahirnya yang indah. Kesabaran yang diabadikan di dalam Kitab suci
menjadi bukti yang tak terbantahkan, bahwa ia adalah manusia sempurna, dalam
wujud lahiriah (penampakan), maupun batinnya. Tidak setitik cela apalagi
kesalahan selama hidupnya, Sang Maha Konsep benar-benar telah mengonsepnya
menjadi manusia ‘ilahi’. Al-Amin telah dikenal oleh masyarakat Mekah,
sebagai manusia mulia, sebagai manifestasi wujud kejujuran mutlak. Sebelum
pengutusannya menjadi Rosul, Muhammad selalu mengamati tanda kekuasaan Tuhan,
dan mengkajinya secara mendalam, terutama mengamati keindahan, kekuasaan, dan
ciptaan Allah dalam segala wujud. Beliau selalu melakukan telaah mendalam
terhadap langit, bumi dan isinya.
Beliau selalu mengamati masyarakatnya yang rusak, dan hancur, beliau mempunyai
tugas untuk menghancurkan segala bentuk pemberhalaan. Apalah kiranya yang
membuat masyarakatnya seperti ini, ia mengembalikan semua ini kepada Tuhan,
yang menurutnya tak mungkin sama dengan manusia.
Gunung Hira,
puncaknya dapat dicapai kurang lebih setengah jam, gua ini adalah saksi atas
peristiwa menyangkut “sahabat karibâ-nya (Muhammad), gua ini menjadi saksi
bisu tentang wahyu, dan seakan-akan ia ingin berkata, disinilah dulu anak
Hasyim itu tinggal, yang selalu kalian sebut-sebut, disinilah ia diangkat
menjadi Rosul, disinilah Al-Furqon pertama kali dibacakan, wahai manusia,
bukankah aku telah mengatakannya, kalianlah (manusia) yang tak mau
menengarkannya, kalian menutup telinga kalian rapat-rapat, dan menertawakanku,
sedangkan sebagian dari kalian hanya menjadikan aku sebagai museum sejarah.kata
saksi bisu.
MEMPEROLEH
GELAR
Ketika Muhammad berumur 35 tahun, ia ikut
bersama kaum Quraisy dalam perbaikan Ka'bah. Pada saat pemimpin-pemimpin suku
Quraisy berdebat tentang siapa yang berhak meletakkan Hajar Aswad, Muhammad dapat menyelesaikan masalah
tersebut dan memberikan penyelesaian adil. Saat itu ia dikenal di kalangan
suku-suku Arab karena sifat-sifatnya yang terpuji. Kaumnya sangat mencintainya,
hingga akhirnya ia memperoleh gelar Al-Amin yang artinya "orang yang dapat
dipercaya".
Diriwayatkan pula bahwa Muhammad adalah
orang yang percaya sepenuhnya dengan keesaan Tuhan.
Ia hidup dengan cara amat sederhana dan membenci sifat-sifat tamak, angkuh dan
sombong yang lazim di kalangan bangsa Arab saat itu. Ia dikenal menyayangi
orang-orang miskin, janda-janda tak mampu dan anak-anak yatim serta berbagi
penderitaan dengan berusaha menolong mereka. Ia juga menghindari semua
kejahatan yang sudah membudaya di kalangan bangsa Arab pada masa itu seperti berjudi, meminumminuman
keras, berkelakuan kasar
dan lain-lain, sehingga ia dikenal sebagai As-Saadiq yang berarti "yang benar".
DIANGKAT MENJADI RASUL
Hira, tempat
diturunkannya kalimat Tuhan Yang Maha Sakti, kalimat yang membuat iblis
berputus asa untuk menyesatkan manusia, kalimat yang dengannya alam semesta
berguncang. Al-Quran, susunan kalimatnya yang mengandung makna yang banyak
telah membuat tercengang manusia-manusia manapun di jagat raya, yang mengakui
kebenarannya, akan mengikutinya, sedangkan yang tidak mengakuinya harus tunduk
atas kebenarannya, dan bagi mereka yang menolak, dengan cara apapun akan
sia-sia, dan celaka. Jibril (Ruh Al-Qudus) diutus Tuhan semesta Alam, Sang
Pemilik Konsep, untuk menyampaikan kalimat-Nya secara berangsur-angsur kepada
Al-amin yang berada di Gunung Hiraâ. Al-Amin telah mempersiapkan dirinya selama
empat puluh tahun untuk memikul tugas yang maha berat ini, Jibril datang
kepadanya dengan membawa beberapa kalimat dari Tuhannya. Ialah kalimat pertama yang
dikemukakan dalam Al-qurâan sebagai berikut
Bacalah dengan [
menyebut] nama Tuhanmu yang menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari
segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah yang Paling Pemurah. Yang mengajari
[manusia] dengan perantaraan kalam. Dia mengajarkan kepada manusia apa yang
tidak diketahuinyaâ
Ayat ini dengan tegas
menyatakan tentang program Nabi, dan menyatakan dalam istilah-istilah jelas
bahwa fondasi agamanya diberikan dengan pengkajian, pengetahuan, kebijaksanaan,
dan penggunaan pena.
Muhammad, pembawa berita
bahagia, ancaman, dan perintah merupakan manusia teladan sepanjang masa, ia
adalah manusia dalam wujud Ilahiah, utusan Tuhan yang kepadanya ummat manusia
memohonkan syafaâat. Tidak satupun mahkluq yang mencapai kesempurnaan yang
dicapai Muhammad, sejak kecil ia telah memperlihatkan ketulusan, kejujuran,
manusia yang seumur hidupnya tidak pernah berbohong, yang tidak pernah
menghianati janji, dan sayang kepada yang miskin.
Malaikat Jibril
menyelesaikan tugasnya menyampaikan wahyu itu, dan Muhammad pun turun dari Gua
Hira menuju rumah Khodijahâ. Jiwa agung Nabi disinari cahaya wahyu. Beliau
merekam di hatinya apa yang didengarnya dari malaikat Jibril. Setelah kejadian
ini, Jibril menyapanya,Wahai Muhammad! Engkau Rosul Allah dan aku Jibril.
Muhammad menerima kalimat Tuhannya secara bertahap, secara berangsur-angsur,
fakta sejarah mengakui bahwa di antara wanita, Khodijah adalah wanita yang
pertama memeluk Islam, dan pria pertama yang memeluk Islam adalah Ali.
Muhammad mengadakan
perjamuan makan dengan kerabatnya, selesai makan, beliau berpaling kepada para
sesepuh keluarganya dan memulai pembicaraan dengan memuji Allah dan memaklumkan
keesaan-Nya. Lalu beliau berkata, Sesungguhnya, pemandu suatu kaum tak pernah
berdusta kepada kaumnya. Saya bersumpah demi Allah yang tak ada sekutu bagi-Nya
bahwa saya diutus oleh Dia sebagai Rosul-Nya, khususnya kepada Anda sekalian
dan umumnya kepada seluruh penghuni dunia. Wahai kerabat saya! Anda sekalian
akan mati. Sesudah itu, seperti Anda tidur, Anda akan dihidupkan kembali dan
akan menerima pahala menurut amal Anda. Imbalannya adalah surga Allah yang
abadi (bagi orang lurus) dan neraka-Nya yang kekal(bagi orang yang berbuat
jahat). Lalu beliau menambahkan, Tak ada manusia yang pernah membawa kebaikan
untuk kaumnya ketimbang apa yang saya bawakan untuk Anda. Saya membawakan
kepada Anda rahmat dunia maupun Akhirat. Tuhan saya memerintahkan kepada saya
untuk mengajak Anda kepada-Nya. Siapakah diantara Anda sekalian yang akan
menjadi pendukung saya sehingga ia akan menjadi saudara, washi (penerima
wasiat), dan khalifah (pengganti) saya?
Ketika pidato Nabi
mencapai poin ini, kebisuan total melanda pertemuan itu. Ali, remaja berusia
lima belas tahun, memecahkan kebisuan itu. Ia bangkit seraya berkata dengan
mantap, Wahai Nabi Allah, saya siap mendukung Anda. Nabi menyuruhnya duduk.
Nabi mengulang tiga kali ucapannya, tapi tak ada yang menyambut kecuali ˜Ali
yang terus melontarkan jawaban yang sama. Beliau lalu berpaling kepada
kerabatnya seraya berkata, Pemuda ini adalah saudara, washi, dan khalifah saya
diantara kalian. Dengarkanlah kata-katanya dan ikuti dia".
Pemakluman khilafah
(imamah) Ali di hari-hari awal kenabian Muhammad memperlihatkan bahwa dua
kedudukan ini berkaitan satu sama lain. Ketika Rosulullah diperkenalkan kepada
masyarakat, khalifahnya juga ditunjuk dan diperkenalkan pada hari itu juga. Ini
dengan sendirinya menunjukkan bahwa kenabian dan imamah merupakan dua hal yang
tak terpisahkan.
Peristiwa diatas
membuktikan heroisme spiritual dan kebenaran Ali. Karena, dalam pertemuan di
mana orang-orang tua dan berpengalaman tenggelam dalam keraguan dan keheranan,
ia menyatakan dukungan dan pengabdian dengan keberanian sempurna dan
mengungkapkan permusuhannya terhadap musuh Nabi tanpa menempuh jalan politisi
yang mengangkat diri sendiri. Kendati waktu itu ia yang termuda diantara yang
hadir, pergaulannya yang lama dengan Nabi telah menyiapkan pikirannya untuk
menerima kenyataan, sementara para sesepuh bangsa ragu-ragu untuk menerimanya.
Setelah berdakwah
kepada kaum kerabatnya, Nabi berdakwah terang-terangan kepada kaum Quraisy.
Muhammad, berbekal kesabaran, keyakinan, kegigihan, dan keuletan dalam
berdakwah terus-menerus dan tidak menghiraukan orang-orang musrik yang terus
menghardik dan mengejeknya. Banyak yang cara yang dilakukan kaum Quraisy untuk
menghentikan Muhammad, suatu saat Abu Tholib sedang duduk bersama keponakannya.
Juru bicara rombongan yang mendatangi rumah Abu Tholib membuka pembicaraan
dengan berkata, Wahai Abu Tholib! Muhammad mencerai-beraikan barisan kita dan
menciptakan perselisihan diantara kita. Ia merendahkan kita dan mencemooh kita
dan berhala kita. Jika ia melakukan itu karena kemiskinan dan kepapaannya, kami
siap menyerahkan harta berlimpah kepadanya. Jika ia menginginkan kedudukan,
kami siap menerimanya sebagai penguasa kami dan kami akan mengikuti
perintahnya. Bila ia sakit dan membutuhkan pengobatan, kami akan membawakan tabib
ahli untuk merawatnyaâ
Abu Tholib berpaling
kepada Nabi seraya berkata, Para sesepuh anda datang untuk meminta Anda berhenti
mengkritik berhala supaya mereka pun tidak mengganggu Anda. Nabi menjawab, Saya
tidak menginginkan apa pun dari mereka. Bertentangan dengan empat tawaran itu,
mereka harus menerima satu kata dari saya, yang dengan itu mereka dapat
memerintah bangsa Arab dan menjadikan bangsa Ajam sebagai pengikut mereka. Abu
Jahal bangkit sambil berkata, Kami siap
sepuluh kali untuk mendengarnya.Nabi menjawab, Kalian harus mengakui keesaan
Tuhan. Kata-kata tak terduga dari Nabi ini laksana air dingin ditumpahkan ke
ceret panas. Mereka demikian heran, kecewa, dan putus asa sehingga serentak
mereka berkata, Haruskah kita mengabaikan 360 Tuhan dan menyembah kepada satu
Allah saja?
Orang Quraisy
meninggalkan rumah Abu Tholib dengan wajah dan mata terbakar kemarahan. Mereka terus
memikirkan cara untuk mencapai tujuan mereka. Dalam ayat berikut, kejadian itu
dikatakan,
Dan mereka heran karena
mereka kedatangan seorang pemberi peringatan dari kalangan mereka; dan
orang-orang kafir berkata,Ini adalah seorang ahli sihir yang banyak berdusta.
Mengapa ia menjadikan tuhan-tuhan itu Tuhan Yang Satu saja ? Sesungguhnya ini
benar-benar suatu hal yang sangat mengherankan. Dan pergilah pemimpin-pemimpin
mereka [seraya berkata], Pergilah kamu dan tetaplah [menyembah] tuhan-tuhanmu,
sesungguhnya ini benar-benar suatu hal yang dikehendaki. Kami tidak pernah
mendengar hal ini dalam agama yang terakhir ini; ini(mengesakan Allah) tidak
lain kecuali dusta yang diada-adakan.
Banyak sekali contoh
penganiayaan dan penyiksaan kaum Quraisy, Tiap hari nabi menghadapi
penganiayaan baru. Misalnya, suatu hari Uqbah bin Abi Mu’ith melihat Nabi
bertawaf, lalu menyiksanya. Ia menjerat leher Nabi dengan serbannya dan
menyeret beliau ke luar masjid. Beberapa orang datang membebaskan Nabi karena
takut kepada Bani Hasyim. Dan masih banyak lagi. Nabi menyadari dan prihatin
terhadap kondisi kaum Muslim. Kendati beliau mendapat dukungan dan lindungan
Bani Hasyim, kebanyakan pengikutnya budak wanita dan pria serta beberapa orang tak terlindung. Para
pemimpin Quraisy menganiaya orang-orang ini terus-menerus , para pemimpin
terkemuka berbagai suku menyiksa anggota suku mereka sendiri yang memeluk
Islam. Maka ketika para sahabatnya meminta nasihatnya menyangkut hijrah, Nabi
menjawab, “Ke Etiopia akan lebih mantap. Penguasanya kuat dan adil, dan tak
ada orang yang ditindas di sana. Tanah negeri itu baik dan bersih, dan Anda
boleh tinggal di sana sampai Allah menolong Anda.
Pasukan Syirik Quraisy
kehabisan akal untuk menghancurkan Muhammad, maka mereka melakukan propaganda
anti Muhammad, diantaranya mereka memfitnah Nabi, Bersikeras menjuluki Nabi
Gila, larangan mendengarkan Al-Qur’an, menghalangi orang masuk Islam,
sehingga Allah mengabadikan perkataan orang-orang keji ini dan menunjukkan
sesatnya perkataan mereka, dalam Al-Qurâan Allah berfirman
Demikianlah, tiada
seorang rosul pun yang datang kepada orang-orang yang sebelum mereka selain
mengatakan,’ Ia adalah seorang tukang sihir atau orang gila.Apakah mereka
saling berpesan tentang apa yang dikatakan itu ? Sebenarnya mereka adalah kaum
yang melampaui batas.
Kaum Quraisy pun gagal
melakukan berbagai macam cara untuk menghalangi usaha Muhammad, dan menghalangi
orang-orang untuk mengikuti agama Tuhan Yang Esa. Mereka pun melakukan Blokade
ekonomi yang membuat banyak kaum muslim, terutama kaum wanita dan anak-anak
kelaparan. Nabi dan para pengikutnya masuk ke Syiâ Abu Tholib, yang diikuti
pendamping hidupnya, Khodijah, dengan membawa serta Fatimah AS. Orang-orang
Quraisy mengepung mereka di Syiâib itu selama tiga tahun. Dan akhirnya
tahun-tahun blokade itu pun berakhir. Dan keluarlah sang bintang bersama
keluarga dan sahabatnya dari pengepungan. Allah telah menetapkan kemenangan
bagi mereka, dan Khodijah pun berhasil pula keluar dari pengepungan dalam
keadaan amat berat dan menderita, Beliau telah hidup dengan kehidupan yang
menjadi teladan Istimewa bagi kalangan kaum wanita. Ajal Khodijah sudah dekat.
Allah telah memilihnya untuk mendampingi Rosulullah Saww., dan dia telah
berhasil menunaikan tugas dengan baik. Khodijah akhirnya meninggal pada tahun
itu juga. Yakni, pada saat kaum Muslim keluar dari blokade orang-orang Quraisy,
tahun kesepuluh sesudah Kenabian. Pada tahun yang sama, paman Rosul (Abu
Tholib) meninggal dunia, yang sekaligus sebagai pelindung dakwa Muhammad.
Sungguh Nabi mengalami kesedihan yang amat berat. Beliau kehilangan Khodijah,
dan juga pamannya yang menjadi pelindung, dan pembelanya. Itu sebabnya, maka
tahun ini dinamakan Am Al-Huzn (Tahun Duka cita). Bukan hanya Rosul yang
terpukul hatinya, Fatimah, yang belum kenyang mengenyam kasih sayang seorang
ibu dan kelembutan belaiannya, ikut pula menanggungnya. Kedukaan menyelimuti
dan menindihnya di tahun penuh kesedihan itu.Fatimah kehilangan ibundanya,
berpisah dari orang yang menjadi sumber cintanya dan kasih sayangnya. Acap kali
dia bertanya kepada ayahandanya, Ayah, kemana Ibu? Kalau sudah begini,
tangisnya pecah, air matanya meleleh, dan kesedihan menerpa hatinya. Rosul
merasakan betapa berat kesedihan yang ditanggung putrinya. Setelah wafatnya Abu
Tholib kaum Kafir Quraisy semakin berani menganggu Muhammad, akhirnya Muhammad
berhijrah ke Yastrib, peristiwa hijrahnya Nabi ke Yastrib, merupakan momen awal
dari lahirnya negara Islam. Penduduk Yastrib bersedia memikul tanggung jawab
bagi keselamatan Nabi. Di bulan Robiâul Awwal tahun ini, saat hijrahnya Nabi
terjadi, tak ada seorang muslim pun yang tertinggal di Mekah kecuali Nabi, Ali
dan Abu Bakar, dan segelintir orang yang ditahan Quraisy atau karena sakit,dan
lanjut usia.
Kaum Quraisy yang
berada di Mekah akhirnya membuat kesepakatan untuk membunuh Muhammad di malam
hari, dan masing-masing suku mempunyai wakil, sehingga Bani Hasyim tidak dapat
menuntut balas atas kematian Muhammad. Orang-orang ini memang bodoh, mereka
mengira Muhammad dapat dihancurkan hanya dengan cara seperti ini, seperti
urusan duniawi mereka. Jibril datang memberitahu Nabi tentang rencana kejam
kaum kafir itu. Al-Qurâan merujuk pada kejadian itu dengan kata-kata,
Dan [ingatlah] ketika
orang-orang kafir (Quraisy) memikirkan daya upaya terhadapmu untuk menangkap
dan memenjarakanmu atau membunuhmu atau mengusirmu. Mereka memikirkan tipu daya
dan Allah menggagalkan tipu daya itu. Dan Allah sebaik-baik Pembalas tipu daya.
Ali berbaring melewati
cobaan yang mengerikan demi keselamatan Islam menggantikan Nabi, sejak sore. Ia
bukan orang tua yang lanjut usia, tapi seorang anak muda yang begitu berani
mengorbankan nyawanya untuk sang Nabi, ia, yang bersama Khodijah adalah orang
yang pertama-tama beriman kepada Nabi, dialah orang yang rela berkorban untuk
Nabi, Ali, sekali lagi Ali. Kepadanya Nabi berkata,Tidurlah di ranjang saya
malam ini dan tutupi tubuh Anda dengan selimut hijau yang biasa saya gunakan,
karena musuh telah bersekongkol membunuh saya. Saya harus berhijrah ke Yastrib.
Ali menempati ranjang Nabi sejak sore. Ketika tiga perempat malam lewat, empat
puluh orang mengepung rumah nabi dan mengintipnya melalui celah. Mereka melihat
keadaan rumah seperti biasanya, dan menyangka bahwa orang yang sedang tidur di
kamar itu adalah Nabi.
MENDAPAT PENGIKUT
Selama tiga tahun pertama sejak
pengangkatannya sebagai rasul, Muhammad hanya menyebarkan Islam secara terbatas
di kalanganteman-teman dekat dan kerabatnya, hal ini untuk mencegah timbulnya
reaksi akut dan masif dari kalangan bangsa Arab saat itu yang sudah sangat
terasimilasi budayanya dengan tindakan-tindakan amoral, yang dalam konteks ini
bertentangan dengan apa yang akan dibawa dan ditawarkan oleh Muhammad.
Kebanyakan dari mereka yang percaya dan meyakini ajaran Muhammad pada masa-masa
awal adalah para anggota keluarganya serta golongan masyarakat awam yang dekat
dengannya di kehidupan sehari-hari, antara lain Khadijah, Ali, Zaid bin Haritsah dan Bilal. Namun pada awal tahun 613,
Muhammad mengumumkan secara terbuka agamaIslam.
Setelah sekian lama banyak tokoh-tokoh bangsa Arab seperti Abu Bakar, Utsman bin Affan, Zubair bin Al Awwam, Abdul
Rahman bin Auf, Ubaidah
bin Harits, Amr bin Nufail yang kemudian masuk ke agama yang dibawa
Muhammad. Kesemua pemeluk Islam pertama itu disebut dengan As-Sabiqun al-Awwalun atau Yang
pertama-tama.
PENYEBARAN
ISLAM
Sekitar tahun 613 M, tiga tahun setelah
Islam disebarkan secara diam-diam, Muhammad mulai melakukan penyebaran Islam
secara terbuka kepada masyarakat Mekkah, respon yang ia terima sangat keras dan
masif, ini disebabkan karena ajaran Islam yang dibawa olehnya bertentangan
dengan apa yang sudah menjadi budaya dan pola pikir masyarakat Mekkah saat itu.
Pemimpin Mekkah Abu Jahal menyatakan bahwa Muhammad adalah orang
gila yang akan merusak tatanan hidup orang Mekkah, akibat penolakan keras yang
datang dari masyarakat jahiliyyah di Mekkah dan kekuasaan yang dimiliki oleh
para pemimpin Quraisy yang menentangnya, Muhammad dan banyak pemeluk Islam awal
disiksa, dianiaya, dihina, disingkirkan, dan dikucilkan dari pergaulan
masyarakat Mekkah.
Walau mendapat perlakuan tersebut, ia
tetap mendapatkan pengikut dalam jumlah besar, para pengikutnya ini kemudian
menyebarkan ajarannya melalui perdagangan ke negeri Syam, Persia, dan kawasan jazirah Arab. Setelah itu, banyak orang yang
penasaran dan tertarik kemudian datang ke Mekkah dan Madinah untuk mendengar
langsung dari Muhammad, penampilan dan kepribadiannya yang sudah terkenal baik
memudahkannya untuk mendapat simpati dan dukungan dalam jumlah yang lebih
besar. Hal ini menjadi semakin mudah ketika Umar bin Khattab dan sejumlah besar tokoh petinggi suku
Quraisy lainnya memutuskan untuk memeluk ajaran islam, meskipun banyak juga
yang menjadi antipati mengingat saat itu sentimen kesukuan sangat besar di
Mekkah dan Medinah. Tercatat pula Muhammad mendapatkan banyak pengikut dari
negeri Farsi (sekarang Iran),
salah satu yang tercatat adalah Salman al-Farisi, seorang ilmuwan asal Persia yang
kemudian menjadi sahabat Muhammad.
Penyiksaan yang dialami hampir seluruh pemeluk Islam selama
periode ini mendorong lahirnya gagasan untuk berhijrah (pindah) keHabsyah (sekarang Ethiopia). Negus atau raja Habsyah, memperbolehkan
orang-orang Islam berhijrah ke negaranya dan melindungi mereka dari tekanan
penguasa di Mekkah. Muhammad sendiri, pada tahun 622 hijrah ke Yatsrib, kota yang berjarak
sekitar 200 mil (320 km) di sebelah Utara Mekkah.
HIJRAH
KE MADINAH
Masyarakat Arab dari berbagai suku setiap
tahunnya datang ke Mekkah untuk beziarah ke Bait Allah atau Ka'bah, mereka menjalankan berbagai tradisi keagamaan dalam kunjungan tersebut.
Muhammad melihat ini sebagai peluang untuk menyebarluaskan ajaran Islam. Di
antara mereka yang tertarik dengan ajarannya ialah sekumpulan orang dari Yatsrib. Mereka menemui Muhammad dan beberapa
orang yang telah terlebih dahulu memeluk Islam dari Mekkah di suatu tempat
bernama Aqabah secara sembunyi-sembunyi. Setelah menganut
Islam, mereka lalu bersumpah untuk melindungi para pemeluk Islam dan Muhammad
dari kekejaman penduduk Mekkah.
Tahun berikutnya, sekumpulan masyarakat
Islam dari Yatsrib datang lagi ke Mekkah, mereka menemui Muhammad di tempat
mereka bertemu sebelumnya. Abbas bin Abdul Muthalib, yaitu pamannya yang saat
itu belum menganut Islam, turut hadir dalam pertemuan tersebut. Mereka
mengundang orang-orang Islam Mekkah untuk berhijrah ke Yastrib dikarenakan
situasi di Mekkah yang tidak kondusif bagi keamanan para pemeluk Islam.
Muhammad akhirnya menerima ajakan tersebut dan memutuskan berhijrah ke Yastrib
PADA TAHUN 622 M.
Mengetahui bahwa banyak pemeluk Islam
berniat meninggalkan Mekkah, masyarakat jahiliyah Mekkah berusaha mengcegahnya,
mereka beranggapan bahwa bila dibiarkan berhijrah ke Yastrib, Muhammad akan
mendapat peluang untuk mengembangkan agama Islam ke daerah-daerah yang jauh
lebih luas. Setelah selama kurang lebih dua bulan ia dan pemeluk Islam terlibat
dalam peperangan dan serangkaian perjanjian, akhirnya masyarakat Muslim pindah
dari Mekkah ke Yastrib, yang kemudian setelah kedatangan rombongan dari Makkah
pada tahun 622 dikenal sebagai Madinah atau Madinatun Nabi (kota Nabi).
Di Madinah, pemerintahan (kekhalifahan)
Islam diwujudkan di bawah pimpinan Muhammad. Umat Islam bebas beribadah (salat)
dan bermasyarakat di Madinah, begitupun kaum minoritas Kristen dan Yahudi.
Dalam periode setelah hijrah ke Madinah, Muhammad sering mendapat serangkaian
serangan, teror, ancaman pembunuhan dan peperangan yang ia terima dari penguasa
Mekkah, akan tetapi semuanya dapat teratasi lebih mudah dengan umat Islam yang
saat itu telah bersatu di Madinah.
PENAKLUKAN MEKAH
Tahun 629 M, tahun ke-8 H setelah hijrah
ke Madinah, Muhammad berangkat kembali ke Makkah dengan membawa pasukan Muslim
sebanyak 10.000 orang, saat itu ia bermaksud untuk menaklukkan kota Mekkah dan
menyatukan para penduduk kota Mekkah dan madinah. Penguasa Mekkah yang tidak
memiliki pertahanan yang memadai kemudian setuju untuk menyerahkan kota Makkah
tanpa perlawanan, dengan syarat kota Mekkah akan diserahkan tahun berikutnya.
Muhammad menyetujuinya, dan ketika pada tahun berikutnya ketika ia kembali, ia telah
berhasil mempersatukan Mekkah dan Madinah, dan lebih luas lagi ia saat itu
telah berhasil menyebarluaskan Islam ke seluruh Jazirah Arab.
Muhammad memimpin umat Islam menunaikan
ibadah haji, memusnahkan semua berhala yang ada di sekeliling Ka'bah, dan
kemudian memberikan amnesti umum dan menegakkan peraturan Islam di kota Mekkah.
MUKJIZAT
Seperti nabi dan rasul sebelumnya,
Muhammad diberikan irhasat (pertanda) akan datangnya seorang nabi, seperti yang
diyakini oleh umat Muslim telah dikisahkan dalam beberapan kitab suci agama
samawi, dikisahkan pula terjadi pertanda pada masa di dalam kandungan, masa
kecil dan remaja. Muhammad diyakini diberikan mukjizat selama kenabiannya.
Umat Muslim meyakini bahwa Mukjizat
terbesar Muhammad adalah Al-Qur'an, yaitu kitab suci umat Islam. Hal ini
disebabkan karena kebudayaan Arab pada masa itu yang masih barbar dan tidak
mengenal peradaban, namun oleh Al-Qur'an hal itu berubah total karena Qur'an
membawa banyak peraturan keras yang menegakkan dasar-dasar nilai budaya baru di
dunia Arab yang sebelumnya tidak berperadaban serta mengeliminasi akar-akar
kejahatan sosial yang mengakar di dunia Arab, serta pada masa yang lebih dekat
mengantarkan pemeluknya meraih tingkat perabadan tertinggi di dunia pada
masanya.
Mukjizat lain yang tercatat dan diyakini secara luas oleh umat
Islam adalah terbelahnya bulan, perjalanan Isra dan Mi'raj dari Madinah menuju
Yerusalem dalam waktu yang sangat singkat. Kemampuan lain yang dimiliki
Muhammad adalah kecerdasan serta kepribadiannya yang banyak dipuji serta masih
menjadi panutan para pemeluk Islam hingga saat ini.
HAJI WADA
Tahun kesebelas Hijrah, haji pertama Nabi
dan kaum Muslimin tanpa ada seorang musrik pun yang ikut didalamnya, untuk
pertama kalinya pula, lebih dari 10.000 orang berkumpul di Madinah dan
sekitarnya, menyertai Nabi melakukan perjalanan ke Makkah, dan .. sekaligus
inilah haji terakhir yang dilakukan oleh Nabi. Rombongan haji meninggalkan
Madinah tanggal 25 Dzulqaâidah , Nabi disertai semua isterinya, menginap satu
malam di Dzi Al-Hulaifah, kemudian melakukan Ihram sepanjang Subuh, dan mulai
bergerak... seluruh padang terisi gema suara mereka yang mengucapkan,Labbaik,
Allahumma labaik... Labbaik, la syarika laka, ! Aku datang memenuhi
panggilanmu, Allahumma, ya Allah, aku datang memenuhi panggilan-Mu. Tiada
sekutu bagi-Mu...Labbaik, aku datang memenuhi panggilan-Mu. Segala puji,
kenikmatan, dan kemaharajaan, hanya bagi-Mu. Tiada sekutu bagi-Mu... Labbaik,
aku datang memenuhi panggilan-Mu... Langit, hingga hari itu, belum pernah
menyaksikan pemandangan di muka bumi seperti yang ada pada saat itu. Lebih dari
100.000 orang, laki-laki dan perempuan “ dibawah sengatan Matahari yang amat
terik dan di padang pasir yang sebelumnya tak pernah dikenal orang “ bergerak
menuju satu arah. Medan ini merupakan lukisan paling indah dari satu warna yang
menghiasi kehidupan manusia. Dan sejarah, adalah kakek tua yang terbelenggu
dalam pengabdian terhadap kepentingan-kepentingan. Ia adalah tukang cerita yang
membacakan hikayat-hikayat Firâaun, Kisra dan Kaisar. Sejarah sekali melihat
Muhammad dan orang-orang yang bergerak bersamanya dengan heran! Aneh sekali.
Pasukan apa ini? Komandan berjalan kaki kelelahan, dan pengikut-pengikutnya pun
demikian pula. Nabi memang berjalan kaki bersama umatnya. Sejarah memang
mendengar bahwa penguasaâ itu berada di tengah-tengah pasukan itu, tapi ketika
dicari-carinya, dia tak bisa menemukannya. Rombongan itu masuk Mekah 4
Dzulhijjah, disitu telah berkumpul Allah, Ibrahim, Kaâbah dan Muhammad. Dia
juga ingin memperlihatkan kepada Ibrahim, bahwa karya besarnya, kita sudah
diantarkan kepada Maksud.
Matahari tepat di tengah siang hari itu.
Seakan-akan ia menumpahkan seluruh cahayannya yang memakar ke atas kepala semua
orang. Nabi berdiri di depan lebih dari 100.000 orang. Laki-laki dan perempuan
yang mengelilinginya. Nabi memulai pidatonya, Rosulullah berkata,â€Tahukah kalian, bulan apa ini ?
Mereka serentak menjawab,Bulan Haram!
...Ayyuhan Nas, camkan baik-baik perkataanku. Sebab, aku tidak
tahu, mungkin aku tidak lagi akan bertemu dengan kalian sesudah tahun ini, di
tempat ini, untuk selama-lamanya... Ayyuhan Nas, sesungguhnya darah dan hartamu
adalah haram bagimu hingga kalian menemui Tuhanmu sebagaimana diharamkannya
hari dan bulanmu ini. Sesudah itu, kamu sekalian akan menemui Tuhanmu dan
ditanya tentang amal-amalmu. Sungguh, aku telah sampaikan hal ini. Maka,
barangsiapa yang masih mempunyai amanat, hendaknya segera disampaikan kepada
orang yang berhak menerimanya....
Akar-akar syirik telah dihapuskan dari
Mekah, dan Mekah menjadi sebuah kota suci bagi kaum muslim, tempat berkumpulnya
muslimin dari seluruh penjuru dunia, dengan menggunakan pakaian yang sama,
menuju Tuhannya, tidak ada perbedaan, baik kaya, miskin, raja, rakyat, semuanya
sama dihadapan Tuhan, yang membedakannya adalah takwa.
Muhammad telah melaksanakan tugasnya, dan
sekarang beliau berada di pembaringan, Nabi membuka mata seraya berkata kepada
putrinya dengan suara pelan Muhammad tidak lain hanyalah seorang Rosul, sungguh
telah berlalu sebelumnya beberapa orang rosul. Apakah jika dia wafat atau
dibunuh kamu akan berbalik ke belakang? Barangsiapa berpaling ke belakang, maka
tidak akan mendatangkan mudarat kepada Allah sedikitpun; dan Allah akan memberi
balasan kepada orang-orang yang bersyukurâ
No comments:
Post a Comment